Cara Alternatif Mendisiplinkan Anak tanpa Kekerasan (Bagian 2)

  • Selasa, 31 Mei 2022 - 13:08:57 WIB
  • Administrator

Oleh: Aghnis Fauziah, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang berpendapat pengasuhan melalui disiplin yang keras akan membuat anak-anak berperilaku lebih baik. Namun, studi penelitian tentang disiplin secara konsisten menunjukkan bahwa pengasuhan anak yang ketat, atau otoriter, sebenarnya menghasilkan anak-anak dengan harga diri yang lebih rendah dan berperilaku lebih buruk sehingga lebih banyak dihukum daripada anak-anak lain.

Akan tetapi, jika orang tua tidak memberikan aturan atau batasan kepada anak, seperti pada gaya pengasuhan permisif, maka hal tersebut juga berdampak buruk bagi anak. Berdasarkan penelitian, pendekatan yang paling baik adalah gaya pengasuhan "otoritatif". Melalui pendekatan otoritatif, orang tua memang menetapkan batasan, sama seperti orang tua yang otoriter (ketat), tapi orang tua melakukannya dengan empati, seperti orang tua permisif. Anak-anak akan berkembang jika diberi batas-batas dan harapan yang sesuai dengan usia, tetapi hanya jika ditetapkan dengan empati.

Ketika anak-anak merasa dipahami, seringkali mereka akan bersedia melakukan apa yang Anda minta, bahkan jika mereka tidak menyukai apa yang Anda minta. Itulah mengapa rahasia untuk menetapkan batasan secara efektif adalah berempati saat Anda memberikan batasan. Terdapat 3 langkah dalam proses tersebut, yaitu:

  1. Tetapkan batas:

"Tidak boleh mendorong. Mendorong itu menyakitkan."

  1. Tawarkan empati, atau pemahaman mengapa anak melakukan perilaku tersebut:

"Sepertinya kamu ingin kakakmu pindah, jadi kamu bisa mendapatkan trukmu."

  1. Beri tahu anak apa yang BISA dia lakukan, sebagai gantinya:

"Kamu bisa memberi tahu adikmu, 'Tolong pindah, Kak!'"

Lalu bagaimana jika Anda mengatakan sebuah harapan pada anak, tetapi anak mengabaikannya? Memang sulit bagi orang tua untuk tetap berempati pada posisi tersebut. Di sinilah kebanyakan dari orang tua mulai berteriak, atau melontarkan ancaman agar anak melakukan apa yang orang tua inginkan. Namun, ada cara-cara berikut dapat Anda gunakan untuk mengatasinya:

  1. Pastikan batas/aturan yang Anda tetapkan masuk akal. Kadang-kadang dengan kita mendengarkan anak kita, kita mempelajari sesuatu yang penting, yang membantu kita mengevaluasi kembali batas kita. Misalnya, jika anak Anda tidak ingin memegang tangan Anda saat Anda menyeberang jalan, bicarakanlah. Mungkin anak Anda siap untuk berjalan di seberang jalan tanpa memegang tangan Anda? Atau mungkin dia siap untuk memegang tas Anda daripada memegang tangan Anda, sehingga dia merasa sedikit lebih mandiri?

 

  1. Jika batas/aturan tersebut memang sesuatu yang penting bagi Anda, maka tegakkanlah. Jika Anda membiarkan anak Anda makan kue di minimart hari ini, tentu saja dia akan menginginkannya lain kali. Anak sedang menguji batas/aturan yang Anda buat. Itulah cara mereka mengetahui sampai mana batas/aturan yang Anda berikan. Jika Anda melonggarkan batas/aturan tersebut, anak akan terus mendorong batas/aturan tersebut. Jika Anda tegas pada batas/aturan yang Anda berikan, maka anak Anda tetap memiliki kebebasan untuk marah dan menangis tentang hal itu, tetapi pada akhirnya akan menerimanya.

 

  1. Membangun koneksi dengan anak sebelum Anda mengoreksi atau mengarahkan ulang. Jangan memberikan instruksi atau permintaan dari jauh. Mendekatlah pada anak. Sentuh lengannya, beri komentar dengan empati mengenai apa yang sedang ia lakukan untuk terhubung dengannya, lalu tetapkan batas Anda. "Kelihatannya menyenangkan! Tapi Ibu khawatir sesuatu bisa pecah saat kamu melemparkannya ke dalam rumah."

 

  1. Katakan sekali saja. Jika Anda terus mengulanginya, maka sebenarnya Anda sedang melatih anak Anda untuk mengabaikan Anda sampai Anda meninggikan suara Anda. Jika anak Anda tidak menanggapi permintaan pertama Anda, artinya Anda belum terhubung dan mendapatkan perhatiannya. Coba kembali ke Langkah 3 dan tatap matanya. Ingat, anak-anak INGIN terhubung dengan orang tua yang dengan hangat menjangkau mereka. Jika Anda tampak sedang bermusuhan dengan mereka, anak akan berpura-pura tidak mendengar Anda.

 

  1. Sabar dan jangan menyerah. Jika Anda serius dengan batasan ini, maka tetap bersikaplah tegas. Jika batasan tersebut masih bisa dikompromikan, maka katakan alasan Anda menetapkan batas tersebut bagi anak dan Anda bersedia untuk fleksibel selama sepuluh menit lagi. Tetapi jika menurut Anda itu adalah batas penting dan tidak bisa ditawar, namun Anda menyerah pada Anak, (misalnya dengan mengatakan, " Oke, Ayah kira kamu dapat terus memainkan permainan itu, tetapi jangan datang menangis kepada Ayah ketika ada yang terluka!"), maka sebenarnya Anda melatih anak Anda untuk mengabaikan permintaan Anda. Cara ini hanya akan membuat batas Anda berikutnya lebih sulit untuk ditetapkan. Cobalah tetap tenang dan tatap wajah anak Anda dengan cara yang ramah untuk menunjukkan bahwa Anda tidak akan mengubah ekspektasi Anda, misalnya "Wah, Sayang! Tidakkah kamu mendengar ibu? Ibu bilang ini permainan yang terlalu berbahaya untuk dimainkan di rumah."

 

  1. Berempati. Akui sudut pandangnya: "Kamu berharap bisa begadang nanti. Ibu ngerti, kok. Sangat sulit untuk berhenti bermain dan pergi tidur. Ibu yakin ketika kamu dewasa, kamu akan bermain sepanjang malam, setiap malam, ya kan?!" Anak Anda mungkin akan menangis dan marah. Dia harus melakukan apa yang Anda minta, tetapi dia masih diizinkan untuk mengungkapkan perasaannya tentang hal itu. Tujuan Anda adalah untuk tetap teguh pada batas Anda sambil berempati dengan perasaan anak. Terkadang anak-anak tahu orangtua benar, tetapi mereka masih ingin orangtua bisa memahaminya bahwa apa yang Anda minta adalah pengorbanan besar bagi mereka.

 

  1. Kelola emosi Anda sendiri sehingga Anda bisa tetap tenang dan bersikap baik. Tahan godaan untuk menghukum dengan cara apa pun. Ramah, tenang, tegas pada batas akan mengajarkan pelajaran bagi anak. Sebaliknya, sesuatu yang lebih keras malah akan menjadi bumerang. Jika Anda bersikeras terhadap aturan dengan marah-marah, anak Anda malah akan melawan. Anak-anak menerima, dan bahkan mengadopsi, harapan kita ketika kita mengatur emosi kita sendiri, dan mendukung anak kita saat ia berjuang untuk mengelola emosinya. Temukan cara untuk membantunya agar dapat bekerja sama dengan Anda: "Kamu sangat kecewa karena kita harus pulang sekarang. Waktu tambahan 10 menit sepertinya masih tidak cukup, masih sulit untuk pergi. Ayo temukan cara untuk membuatnya sedikit lebih mudah. ​​Apakah kamu tidak ingin memakai sepatu, dan kita akan membawanya bersama ke dalam mobil?"

 

Apakah ada pelanggaran yang layak dihukum? Tidak. Semakin besar pelanggarannya, artinya semakin besar kurangnya koneksi yang dirasakan anak Anda, maka sebenarnya semakin banyak bantuan yang dia butuhkan dari Anda untuk menyelesaikan apa yang ada di dalam dirinya. Anda mungkin tetap perlu mengajari anak agar dapat memperbaiki suatu hubungan atau mengganti sesuatu yang rusak. Membantu anak Anda menemukan solusi itu akan memberdayakannya, tetapi hanya setelah dia tenang dan dapat memilihnya sendiri.

 

  1. Pertahankan ikatan emosional yang kuat dan pastikan anak Anda tahu bahwa Anda berada di sisinya. Jika dia merasa Anda mengambil kebahagiaannya dengan menciptakan batasan yang sewenang-wenang atau tidak adil, dia tidak akan menerima empati Anda, atau batasan Anda. Tetapi jika anak Anda menganggap Anda memperhatikan kepentingan terbaiknya dan kebahagiaannya, dia akan menerima empati Anda, yang akan membantunya menerima batasan Anda, dan menginternalisasikannya sebagai batasannya sendiri.

Dengan demikian, yang dapat dilakukan oleh orangtua yaitu:

  1. Mengatur emosi Anda sendiri.
  2. Membangun koneksi dengan anak Anda melalui empati.
  3. Melatih anak Anda, bukan mengancam dan menghukum. Melatih berarti menetapkan batas Anda dengan tegas tetapi dengan pengertian, dan membantu anak Anda dengan emosi besar mereka dalam menanggapi batas Anda.

Tiga hal di atas adalah tiga ide besar dari pengasuhan otoritatif (pengasuhan positif). Gaya pengasuhan ini tidak hanya akan membuat anak Anda bekerja sama dengan batasan Anda dalam jangka pendek, tetapi anak juga akan menjadi manusia yang bertanggung jawab dan cerdas secara emosional dalam jangka panjang. Anak akan mampu mengatur emosinya sendiri karena mencontoh Anda yang dapat mengatur emosi diri sendiri. Anak akan menganggap serius aturan Anda karena Anda juga menganggap serius aturan tersebut. Anak INGIN bekerja sama, karena ia merasa terhubung dengan Anda, bahkan saat Anda sedang membimbing perilakunya. Saat seorang anak ingin bekerja sama ketika Anda menetapkan batasan, maka akan lebih mudah bagi Anda untuk mendisiplinkannya.