Mengelola Kemarahan Anak Secara Konstruktif

  • Selasa, 27 Juni 2023 - 09:31:20 WIB
  • Administrator

Oleh Aghnis Fauziah, S.Psi., M.Psi., Psikolog

 

Marah merupakan salah satu bentuk emosi yang dilimiliki oleh seluruh manusia, termasuk anak. Marah merupakan respon melawan dari tubuh untuk menjaga diri kita tetap aman saat kita merasa terancam. Marah juga muncul ketika seseorang melanggar batasan kita.

Akan tetapi, manusia marah tidak hanya ketika ada ancaman di luar diri kita. Ketika terjadi peristiwa saat ini yang mengingatkan kejadian pada masa lalu yang mengesalkan, kita juga akan marah untuk melindungi diri kita, bahkan jika ancaman saat ini bukan betul-betul sebuah ancaman bagi diri kita. Itulah mengapa anak yang tidak menurut akan memicu kemarahan kita.

Kita juga marah untuk melawan perasaan yang tidak menyenangkan. Saat emosi takut, sakit hati, kecewa, atau perasaan berduka terasa menakutkan, kita cenderung menyerang. Kemarahan tidak menghilangkan luka, tetapi membuat kita merasa lebih kuat/berdaya dan dapat menghilangkan rasa sakit untuk sementara. Karena itulah kemarahan merupakan bagian dari proses berduka. Manusia cenderung melawan setiap ancaman yang dirasakan (bahkan perasaan kesal kita sendiri) dengan menyerang/marah.

Begitu pula dengan anak-anak kita. Anak-anak masih belum betul-betul mengerti bagaimana mengungkapkan emosi mereka melalui kata-kata. Sehingga, sedikit kekecawaan yang dirasakan dapat terasa seperti sebuah masalah yang sangat besar bagi mereka. Apalagi bagian otak korteks frontal yang belum berkembang sepenuhnya membaut mereka masih kesulitan meregulasi emosinya, yang membuat anak cenderung menyerang ketika mereka sedang marah.

Terkadang respon menyerang memang diperlukan saat betul-betul ada ancaman. Akan tetapi pada kenyataannya, peristiwa tersebut jarang ditemui. Sebagian besar waktu ketika anak marah, mereka ingin menyerang adik mereka (yang merusak mainannya), orang tua (yang mendisiplinkannya), guru (yang membuatnya malu), atau teman bermain (yang membuat mereka takut).

Saat otak anak-anak berkembang, mereka akan memperoleh kemampuan untuk mengelola amarah mereka secara konstruktif jika mereka tinggal dengan orang tua yang mampu mengelola rasa marah dengan cara yang sehat.

Seperti apa mengelola kemarahan yang "konstruktif" bagi seorang anak (atau bahkan orang dewasa)?

  1. Mengontrol dorongan agresif

Anak akan mempelajari bahwa emosi tidak berbahaya atau mengancamnya dan dapat dirasakan, tanpa perlu menindaklanjuti untuk melakukan suatu tindakan menyerang saat orang tua mampu menerima dan berempati dengan emosi anak. Ketika orang tua menerima kemarahan anak dan berusaha tetap tenang, anak mempelajari suatu keterampilan untuk dapat menenangkan diri dan mengkomunikasikan perasaannya tanpa menyakiti orang atau merusak benda.

 

  1. Mengakui kemarahan serta emosi yang lebih mengancam dibalik kemarahan

Jika orang tua dapat menahan diri agar tidak terpicu dan menerima/mengakui mengapa anak kesal, maka kemarahan anak akan mulai mereda. Anak kemudian akan merasa cukup aman untuk merasakan emosi yang lebih rentan yang memicu rasa marah. Begitu anak dapat membiarkan dirinya mengalami kesedihan karena mainannya yang rusak, rasa sakit hati karena ibunya tidak adil menurutnya, rasa malunya ketika ia tidak tahu jawaban di kelas, atau rasa takut ketika temannya mengancamnya, perasaannya mulai pulih. Saat perasaan rentan mulai memudar, anak tidak lagi memerlukan kemarahan untuk melawan, kemudian kemarahannya akan menghilang. Sebaliknya, ketika orang tua tidak dapat membantu anak merasa aman untuk merasakan emosi dibalik kemarahan, anak akan terus semakin marah, karena anak tidak mempunyai cara lain untuk mengatasi perasaan yang tidak nyaman dalam dirinya. Anak menjadi sangat mudah terpicu kemarahannya, karena merasa lingkungan melawannya.

 

  1. Pemecahan masalah konstruktif

Tujuan akhir orang tua adalah agar anak menggunakan kemarahannya sebagai dorongan untuk mengubah beberapa hal yang diperlukan agar situasi sebelumnya tidak terulang. Contohnya, memindahkan mainan dari jangkauan adiknya, meminta bantuan orang tua untuk menghadapi anak yang mengintimidasi. Mungkin juga mengakui kesalahannya sendiri sehingga menimbulkan situasi sebelumnya, sehingga anak memutuskan untuk belajar lebih rajin.

 

Dengan bantuan orang tua, anak belajar menenangkan diri saat marah sehingga ia mampu mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya tanpa menyerang orang lain, baik secara fisik maupun verbal. Dia akan belajar melihat sisi orang lain, dan mencari solusi yang terbaik untuk masalah tersebut, daripada hanya menganggap ia yang benar dan orang lain salah.

Tentu saja butuh proses dan bimbingan orang tua pada anak agar anak menguasai keterampilan ini. Jika orang tua dapat membantu anak agar merasa cukup aman mengungkapkan kemarahan mereka dan mengeksplorasi perasaan dibaliknya, anak semakin mampu mengendalikan ledakan kemarahannya sehingga anak mampu mengungkapkan kemarahan mereka dengan tepat dan beralih ke pemecahan masalah yang konstruktif.

Oleh Aghnis Fauziah, S.Psi., M.Psi., Psikolog

 

Marah merupakan salah satu bentuk emosi yang dilimiliki oleh seluruh manusia, termasuk anak. Marah merupakan respon melawan dari tubuh untuk menjaga diri kita tetap aman saat kita merasa terancam. Marah juga muncul ketika seseorang melanggar batasan kita.

Akan tetapi, manusia marah tidak hanya ketika ada ancaman di luar diri kita. Ketika terjadi peristiwa saat ini yang mengingatkan kejadian pada masa lalu yang mengesalkan, kita juga akan marah untuk melindungi diri kita, bahkan jika ancaman saat ini bukan betul-betul sebuah ancaman bagi diri kita. Itulah mengapa anak yang tidak menurut akan memicu kemarahan kita.

Kita juga marah untuk melawan perasaan yang tidak menyenangkan. Saat emosi takut, sakit hati, kecewa, atau perasaan berduka terasa menakutkan, kita cenderung menyerang. Kemarahan tidak menghilangkan luka, tetapi membuat kita merasa lebih kuat/berdaya dan dapat menghilangkan rasa sakit untuk sementara. Karena itulah kemarahan merupakan bagian dari proses berduka. Manusia cenderung melawan setiap ancaman yang dirasakan (bahkan perasaan kesal kita sendiri) dengan menyerang/marah.

Begitu pula dengan anak-anak kita. Anak-anak masih belum betul-betul mengerti bagaimana mengungkapkan emosi mereka melalui kata-kata. Sehingga, sedikit kekecawaan yang dirasakan dapat terasa seperti sebuah masalah yang sangat besar bagi mereka. Apalagi bagian otak korteks frontal yang belum berkembang sepenuhnya membaut mereka masih kesulitan meregulasi emosinya, yang membuat anak cenderung menyerang ketika mereka sedang marah.

Terkadang respon menyerang memang diperlukan saat betul-betul ada ancaman. Akan tetapi pada kenyataannya, peristiwa tersebut jarang ditemui. Sebagian besar waktu ketika anak marah, mereka ingin menyerang adik mereka (yang merusak mainannya), orang tua (yang mendisiplinkannya), guru (yang membuatnya malu), atau teman bermain (yang membuat mereka takut).

Saat otak anak-anak berkembang, mereka akan memperoleh kemampuan untuk mengelola amarah mereka secara konstruktif jika mereka tinggal dengan orang tua yang mampu mengelola rasa marah dengan cara yang sehat.

Seperti apa mengelola kemarahan yang "konstruktif" bagi seorang anak (atau bahkan orang dewasa)?

  1. Mengontrol dorongan agresif

Anak akan mempelajari bahwa emosi tidak berbahaya atau mengancamnya dan dapat dirasakan, tanpa perlu menindaklanjuti untuk melakukan suatu tindakan menyerang saat orang tua mampu menerima dan berempati dengan emosi anak. Ketika orang tua menerima kemarahan anak dan berusaha tetap tenang, anak mempelajari suatu keterampilan untuk dapat menenangkan diri dan mengkomunikasikan perasaannya tanpa menyakiti orang atau merusak benda.

 

  1. Mengakui kemarahan serta emosi yang lebih mengancam dibalik kemarahan

Jika orang tua dapat menahan diri agar tidak terpicu dan menerima/mengakui mengapa anak kesal, maka kemarahan anak akan mulai mereda. Anak kemudian akan merasa cukup aman untuk merasakan emosi yang lebih rentan yang memicu rasa marah. Begitu anak dapat membiarkan dirinya mengalami kesedihan karena mainannya yang rusak, rasa sakit hati karena ibunya tidak adil menurutnya, rasa malunya ketika ia tidak tahu jawaban di kelas, atau rasa takut ketika temannya mengancamnya, perasaannya mulai pulih. Saat perasaan rentan mulai memudar, anak tidak lagi memerlukan kemarahan untuk melawan, kemudian kemarahannya akan menghilang. Sebaliknya, ketika orang tua tidak dapat membantu anak merasa aman untuk merasakan emosi dibalik kemarahan, anak akan terus semakin marah, karena anak tidak mempunyai cara lain untuk mengatasi perasaan yang tidak nyaman dalam dirinya. Anak menjadi sangat mudah terpicu kemarahannya, karena merasa lingkungan melawannya.

 

  1. Pemecahan masalah konstruktif

Tujuan akhir orang tua adalah agar anak menggunakan kemarahannya sebagai dorongan untuk mengubah beberapa hal yang diperlukan agar situasi sebelumnya tidak terulang. Contohnya, memindahkan mainan dari jangkauan adiknya, meminta bantuan orang tua untuk menghadapi anak yang mengintimidasi. Mungkin juga mengakui kesalahannya sendiri sehingga menimbulkan situasi sebelumnya, sehingga anak memutuskan untuk belajar lebih rajin.

 

Dengan bantuan orang tua, anak belajar menenangkan diri saat marah sehingga ia mampu mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya tanpa menyerang orang lain, baik secara fisik maupun verbal. Dia akan belajar melihat sisi orang lain, dan mencari solusi yang terbaik untuk masalah tersebut, daripada hanya menganggap ia yang benar dan orang lain salah.

Tentu saja butuh proses dan bimbingan orang tua pada anak agar anak menguasai keterampilan ini. Jika orang tua dapat membantu anak agar merasa cukup aman mengungkapkan kemarahan mereka dan mengeksplorasi perasaan dibaliknya, anak semakin mampu mengendalikan ledakan kemarahannya sehingga anak mampu mengungkapkan kemarahan mereka dengan tepat dan beralih ke pemecahan masalah yang konstruktif.